X-Men Apocalypse : ‘Post Power Syndrome’ Mantan Penguasa Bumi

Ungkapan di atas sering menjadi tolak ukur bagus atau tidaknya sebuah film bertema pahlawan super. Selain jagoan utama, tokoh jahat memang acap kali menjadi daya tarik dan alasan bagi penonton untuk menyaksikan layar lebar di genre tersebut. Sosoknya harus kuat, bukan hanya karena memiliki kekuatan tertentu, melainkan juga karakternya. Ia merupakan benang merah konflik yang ada dalam cerita.

Sosok seperti itulah yang coba ditawarkan oleh Bryan Singer di garapan terbarunya, X-Men Apocalypse. Ia menampilkan karakter En Sabah Nur/Apocalypse, sebagai penjahat utama dan salah satu musuh terkuat yang pernah dihadapi X-Men. Antagonis yang dilakoni oleh Oscar Isaac ini dikisahkan sebagai mutan pertama yang ada di muka bumi ribuan tahun lalu. Makhluk berwarna biru tersebut dianggap dewa atau Tuhan oleh masyarakat Mesir di zamannya

Kekuatannya berasal dari hasil menyerap kemampuan mutan lain. Hal itu membuatnya menjadi kekal abadi dan tak terkalahkan. Hingga suatu ketika ada sekelompok masyarakat yang membelot dan menganggap Apocalyse sebagai dewa palsu. Ia dan empat pengawal setianya (Horsemen) dikubur hidup-hidup di bawah tanah sebuah piramida. Ribuan tahun berlalu, dirinya bangkit kembali dan marah saat mengetahui tak lagi diperlakukan sebagai Tuhan.

Itulah yang menjadi salah satu daya tarik dari angsuran ketiga waralaba X-Men: First Class (2011) ini. Tokoh jahat utama dibangun dengan latar belakang yang sangat kuat. Apocalypse tak hanya digambarkan memiliki kekuatan besar yang tak tertandingi, tetapi juga seorang mantan penguasa bumi yang mengalami ‘post power syndrome’. Ribuan tahun disembah, ia dikhianati dan dunia berubah tidak sesuai dengan keinginannya. Alhasil, sang dewa ingin memimpin lagi untuk mewujudkan ‘new world order’ versinya. Dirinya ingin memusnahkan manusia agar mutan kembali berkuasa

Pada dasarnya, pemikiran Apocalypse tidak jauh berbeda dengan Erik Lehnsherr/Magneto. Hanya saja, motivasi mutan yang mampu mengendalikan logam itu lebih kepada kekecewaannya terhadap bagaimana dunia memperlakukan kaumnya. Hal itu pun tersaji dalam film ini. Bahkan, Anda juga akan ditunjukkan penyebab terbesar kebencian karakter yang dimainkan oleh Michael Fassbender tersebut terhadap manusia dan memutuskan bergabung dengan En Sabah Nur, yang ternyata dilatarbelakangi oleh sesuatu yang bersifat personal serta emosional.
Yang juga menarik dari X-Men Apocalypse adalah munculnya versi muda dari jagoan-jagoan X-Men yang belum tampil di seri pertama dan kedua seperti Cyclops (Tye Sheridan), Jean Grey (Sophie Turner), Nightcrawler (Kodi Smit-McPhee), dan Storm (Alexandra Shipp). Kecuali Jean, kisah awal bagaimana mereka bisa bergabung di tim Professor X akan diceritakan di dalamnya. Termasuk anggota Horsemen baru yang direkrut oleh Apocalypse, yaitu Psylocke (Olivia Munn) dan Angel (Ben Hardy). Oleh karena itu, di awal film Anda akan banyak disuguhkann soal sejarah dan perkenalan.

Jadi, bagi yang ingin menikmati aksi pertarungan seru antara X-Men melawan Apocalypse dan Horsemen, harus lebih bersabar hingga pertengahan dan menjelang akhir film. Namun, Anda tidak perlu khawatir akan merasa bosan selama 136 menit duduk di bioskop. Pasalnya, X-Men Apocalypse tampil lebih segar dan lucu dari seri-seri sebelumnya. Ada beberapa dialog humor dan aksi-aksi jenaka yang ditampilkan, terutama oleh karakter Quicksilver (Evan Peters). Apakah itu berhasil membuatnya lebih menarik? Anda sendiri yang menentukan.

Mampukah Apocalypse mewujudkan ‘new world order’ versinya? Bagaimana cara X-Men melawan musuh yang nampaknya tak bisa dikalahkan itu? Temukan jawabannya di X-Men Apocalypse yang tayang mulai 18 Mei 2016 hanya di Cinema kesayangan kamu.

Source : http://www.21cineplex.com

About Reza Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

45 + = 47

x

Check Also

Child Play (2019)

Child’s Play (2019)

Film Child’s Play kembali dengan karakter ikonisnya, boneka Chucky sang pembunuh. Franchise film ini memang ...