pesantren impian

Pesantren Impian : Misteri Pembunuhan di Sebuah Pesantren

Sepuluh orang wanita mendapatkan sebuah undangan misterius untuk menginap di sebuah pesantren milik Gus Budiman yang ada di pulau terpencil. Mereka datang untuk memperbaiki diri dari latar belakang kelam mereka masing-masing. Dari kesepuluh wanita itu, rupanya ada seorang polisi yang tengah menyamar dalam rombongan, Briptu Dewi atau Eni (Prisia Nasution) namanya.

Eni sengaja menyamar untuk menguak kasus pembunuhan di hotel Crystal yang kemudian memberinya petunjuk bahwa tersangkanya ada di pesantren yang disebut Pesantren Impian itu. Ia menaruh curiga pada salah satu diantara mereka, Inong (Dinda Kanya Dewi), yang menurutnya kerap bersikap aneh dan tidak rasional.

Tidak sebentar, Eni membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menguak kasus tersebut, kendati sudah menetapkan beberapa orang sebagai tersangka, namun ia belum bisa memastikan siapa orang yang ia incar.

Ditengah penyelidikannya itu, sepuluh orang wanita yang kini menjadi santriwati tersebut sudah mulai terkuak jati diri yang sebenarnya dan masa lalu kelam mereka. Sissy (Indah Permatasari), seorang model dan sosialita, yang tak lain adalah sahabat dari Inong, lalu Butet yang ternyata terjerat kasus narkoba, Sri yang terjebak skandal pelacuran, dan lain-lain. Tetapi masa lalu kelam itu rupanya perlahan memudar dengan menguatnya keriligiusan mereka selama menetap di Pesantren Impian.

Hingga suatu ketika, Eni semakin bingung karena satu persatu santriwati mulai tewas secara misterius. Ada yang ditemukan tewas di kamar mandi, ada pula yang ditemukan tewas sudah dalam keadaan berkafan dan memeluk nisan, ada pula yang tewas di halaman belakang pesantren.

Kejadian ini seakan menggugurkan semua usaha Eni untuk menemukan tersangka kasusnya, belum lagi para santriwati yang tersisa menjadi semakin takut dan resah dengan adanya pembunuhan misterius. Eni pun menjatuhkan rasa curiga pada Pak Umar (Fachri Albar). Siapakah beliau ini?

Thriller-religi, Pesantren Impian, yang diadaptasi dari novel laris Asma Nadia seakan melahirkan genre baru di industri perfilman Indonesia. Cara baru untuk berdakwah dengan visual yang mencekam dan mengerikan rasanya memang perlu dipertimbangkan, karena Pesantren Impian, dengan semua pesannya, berhasil tersalurkan kepada para penonton.

Biasanya, film yang diangkat dari novel akan menimbulkan banyak spekulasi juga pro dan kontra. Bagi pembaca novelnya, jangan underestimate dulu dengan film layar lebar Pesantren Impian, karena Ifa Isfansyah yang duduk di kursi sutradara tahu betul yang ia lakukan untuk filmnya ini. Belum lagi ada peranan Hanung Bramantyo di kursi produser.

Bagus? Tentu saja. Dari temanya saja sudah bisa diperhitungkan, belum lagi keterlibatan para pemain di dalamnya seperti Prisia Nasution, Fachri Albar, Deddy Sutomo, Dinda Kanya Dewi, Alexandra Gottardo, Indah Permatasari dan masih banyak lagi. Disamping itu, Alim Sudio dan Salim Bachmid yang bertindak sebagai penulis skenario juga pandai dalam memberikan hook serta twist pada film ini.

Jika dari segi cerita sudah tak perlu dikupas mendalam lagi, segi sinematografi pun demikian. Kebutuhan warna yang memengaruhi psikologis penonton sangat diterapkan dengan baik pada film ini. Di awal, Pesantren Impian memang tampak begitu fun dan dinamis, namun semua berbeda ketika pembunuhan mulai terjadi, termasuk dari psikologis warna dan pengambilan gambar yang sebelumnya banyak master, menjadi close up/ cover.

Well, untuk film bagus seperti Pesantren Impian, rasanya sobat nonton harus datang ke bioskop terdekat mulai 3 Maret 2016, dan temukan apa yang sebenarnya terjadi.

Sumber : http://www.21cineplex.com

About Reza Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

96 − = 95

x

Check Also

Child Play (2019)

Child’s Play (2019)

Film Child’s Play kembali dengan karakter ikonisnya, boneka Chucky sang pembunuh. Franchise film ini memang ...